Sabtu, 17 November 2012

ketika berdo`a





Dalam hal ini terdapat berbagai macam hal-hal baru (bid’ah), yang merupakan bentuk tipu muslihat setan dan upaya orang-orang sesat untuk menyesatkan masyarakat awam. Di antaranya: sempoyongan (tawâjud), tersentak, tak sadarkan diri, dalam suasana larut, menjerit, badan goncang, gemetar, pingsan, mati, terisak-isak (tersedu-sedu), gila (karena cinta) dan berbagai ekspresi fana (melebur dengan Tuhan) dan syuhûd (merasa menyaksikan Tuhan) dan lainnya. 

Di sini, saya akan menyampaikan sebuah perkataan umum tentang hal yang masyru’ (dibenarkan Islam) sewaktu mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan berdzikir, serta isyarat kepada perbuatan yang menyelisihi apa yang masyru’ tersebut, guna untuk meluruskannya. Penjelasannya adalah sebagai berikut: 

“Kedua wahyu yang mulia (al-Qur’an as-Sunnah) menyatakan bahwa sewaktu mendengar ayat-ayat al-Qur’an al-‘Azhim beserta pengaruh-pengaruh keimanan yang menyertainya, para hamba Allah ya Koreksi etika menangis dan khusyu’ sewaktu berdzikir dan berdo’a 

Dalam hal ini terdapat berbagai macam hal-hal baru (bid’ah), yang merupakan bentuk tipu muslihat setan dan upaya orang-orang sesat untuk menyesatkan masyarakat awam. Di antaranya: sempoyongan (tawâjud), tersentak, tak sadarkan diri, dalam suasana larut, menjerit, badan goncang, gemetar, pingsan, mati, terisak-isak (tersedu-sedu), gila (karena cinta) dan berbagai ekspresi fana (melebur dengan Tuhan) dan syuhûd (merasa menyaksikan Tuhan) dan lainnya. 

Di sini, saya akan menyampaikan sebuah perkataan umum tentang hal yang masyru’ (dibenarkan Islam) sewaktu mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan berdzikir, serta isyarat kepada perbuatan yang menyelisihi apa yang masyru’ tersebut, guna untuk meluruskannya. Penjelasannya adalah sebagai berikut: 

“Kedua wahyu yang mulia (al-Qur’an as-Sunnah) menyatakan bahwa sewaktu mendengar ayat-ayat al-Qur’an al-‘Azhim beserta pengaruh-pengaruh keimanan yang menyertainya, para hamba Allah yang shalih akan memperoleh kebaikan dan kemuliaan yang melimpah, yang berupa perasaan bahagia bersama Allah ta'ala dan kalam-Nya, beribadah dengan membaca, merenungi, memahami dan mengamalkan firman-Nya, bertambahnya keimanan dan keyakinan, terpenuhinya hati dengan keagungan Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Terjaga, ketulusan untuk berserah diri (tawakkal), dan terdorongnya hamba tersebut untuk semakin meningkatkan ibadah. 

Bersamaan dengan keadaan yang suci ini, mereka juga akan mengalami pengalaman-pengalaman yang sangat mulia, seperti menangis dengan tetesan dan linangan air mata, tanpa ada suara dan teriakan. Dan terkadang itu disertai dengan isakan-isakan saja, sedikit suara tangisan, sensitivitas rohani, kekhusyu’an, hati gemetar dan ketenteraman di dalam hati, rasa takut dan merindingnya kulit sekujur tubuh… dan berbagai pengaruh keimanan yang lain dan pengalaman-pengalaman rohani lainnya, karena mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang agung, yang juga merupakan pendengaran bagi para nabi, orang-orang mukmin dan orang-orang alim. 

Allah Dzat Yang Maha Agung pujian-Nya dan Maha Suci asma-asma-Nya telah berfirman,



وَإِذَا سَمِعُوا مَآأُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرِفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَآءَامَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ 

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur'an dan kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ).” (al-Ma’idah: 83).

ng shalih akan memperoleh kebaikan dan kemuliaan yang melimpah, yang berupa perasaan bahagia bersama Allah ta'ala dan kalam-Nya, beribadah dengan membaca, merenungi, memahami dan mengamalkan firman-Nya, bertambahnya keimanan dan keyakinan, terpenuhinya hati dengan keagungan Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Terjaga, ketulusan untuk berserah diri (tawakkal), dan terdorongnya hamba tersebut untuk semakin meningkatkan ibadah.

Bersamaan dengan keadaan yang suci ini, mereka juga akan mengalami pengalaman-pengalaman yang sangat mulia, seperti menangis dengan tetesan dan linangan air mata, tanpa ada suara dan teriakan. Dan terkadang itu disertai dengan isakan-isakan saja, sedikit suara tangisan, sensitivitas rohani, kekhusyu’an, hati gemetar dan ketenteraman di dalam hati, rasa takut dan merindingnya kulit sekujur tubuh… dan berbagai pengaruh keimanan yang lain dan pengalaman-pengalaman rohani lainnya, karena mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang agung, yang juga merupakan pendengaran bagi para nabi, orang-orang mukmin dan orang-orang alim.

Allah Dzat Yang Maha Agung pujian-Nya dan Maha Suci asma-asma-Nya telah berfirman,


وَإِذَا سَمِعُوا مَآأُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرِفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَآءَامَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ 
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur'an dan kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ).” (al-Ma’idah: 83).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar